BukuReview

Book Review : Jika Kita Tak Pernah Jadi Apa-apa

Book Review : Jika Kita Tak Pernah Jadi Apa-apa

Kita mungkin belum jadi apa-apa di dunia ini. Namun, mudah-mudahan, di akhirat kelak, kita jadi apa-apa.

Aku bakal jadi apa di masa depan?
Tapi, aku nggak tahu mau jadi apa.
Aku selalu aja dibandingin.
Aku malu begini terus.

Hal vii.

Saat ini saya lagi demen baca buku tentang self development nih, self development memang populer dan banyak diulas tentang buku-buku berbau pengembangan diri dan motivasi. Sangat wajib harus kalian baca karena bakal berguna untuk mengenal diri sendiri, membentuk pola pikir manusia, dan siap mental untuk mempersiapkan diri di masa kini dan masa depan.

Salah satu buku bacaan self development yang sudah saya tamatkan berjudul “Jika Kita tak Pernah Jadi Apa-Apa” karya Alvi Syahrin. Pingin banget baca buku-buku karya kak Alvi terutama buku “Insecure” sempat mau beli di gramed cuman harganya itu loh yang nggak ramah terhadap dompet saya 🙁

Kali ini saya bakal mengulas buku “Jika Kita tak Pernah Jadi Apa-Apa” yang isinya tuh hampir relate dengan kehidupan saya as mahasiswa.

Edit by Canva

Judul : Jika Kita tak Pernah jadi Apa-Apa

Penulis : Alvi Syahrin

Genre : Self Development

Penerbit : Gagas Media

Terbit : 2019

ISBN : 978-979-780-948-5

Blurb :

Jika Kita tak Pernah Jadi Apa-Apa akan menemanimu selama perjalanan. Buku ini untukmu yang khawatir tentang masa depan. Tenang saja, kau tidak sedang diburu waktu. Bacalah tiap lembarannya dengan penuh kesadaran bahwa hidup adalah tentang sebaik-baiknya berusaha jatuh lalu bangun lagi, dan tidak berhenti percaya bahwa segala perjuangannmu tidak akan sia-sia. Bukankah sebaiknya apa-apa yang fana tidak selayaknya membuatmu kecewa?

Alvi Syahrin

Just an introvert livin in an ekstrovert world. Writing these, to you.

***

Buku ini cocok buat kalian yang mahasiswa maupun persiapan untuk terjun ke dunia kuliah, pas banget nih buat saya yang merasa bingung di kehidupan kuliah sekarang ini. Banyak sekali pertanyaan-pertanyaan dan miskonsepsi muncul di pikiran saya tentang seluk-beluk perkuliahan, suka dan dukanya pun jelas pernah saya alami saat menjalani kuliah sejak 4 tahun.

Isi bukunya banyak banget berisi masalah-masalah anak muda tentang masalah kuliah dan bingung mau jadi apa nanti di masa depan, mau ulas semua isi bukunya cuman takut kepanjang tulisannya kayak jurnal makalah. Jadi saya hanya mengulas sedikit beberapa isi bagian bab yang menarik.

1. Apakah kuliah itu penting ?

Sudah 4 tahun saya masih duduk di bangku kuliah untuk mengejar pendidikan tinggi dan menimba ilmu, kuliah itu nggak hanya dituntut mencari ilmu saja tapi justru dituntut untuk menjadi lebih dewasa dan mandiri dalam mengurusi akademik kuliah dan mendisplinkan diri sendiri. Kalau zaman sekolah kan masih tergantung dengan guru tuh buat ngebantuin murid kalau ada masalah, sedangkan di kuliah tuh kita dituntut belajar mandiri dan harus kita urusin sendiri jika punya masalah akademik atau mengurusi biaya kuliah.

Dalam isi keluh kesah di bab ini, banyak sekali pertanyaan-pertanyaan negatif di benak kepala.

“Kenapa memilih kuliah, paling pas lulus susah nyari kerja dan ujung-ujungnya pengangguran.”

“Percuma ngehamburin uang banyak demi bayar kuliah.”

Belum tentu pikiran itu menjadi kenyataan dan sebenarnya itu karena kitanya aja yang merasa overthinking dengan kecemasan yang memengaruhi pikiran kita sendiri.

Menurut saya tujuan kuliah tuh nggak hanya belajar teori praktik buat bekal di dunia kerja nanti aja kok, kuliah tuh juga membantu saya belajar berdiskusi bersama kelompok untuk memecahkan kasus topik yang akan dijelaskan dalam bentuk presentasi/ makalah. Satu lagi kuliah juga bisa nambah pengalaman mengikuti kegiatan organisasi sesuai passion dan nantinya akan dilatih juga belajar kepemimpinan dan basic-basic skill mahasiswa yang harus dikuasai.

Seorang pebisnis tak akan sukses begitu saja tanpa punya ilmu yang mumpuni. Katakanlah, pebisnis ini tidaklah menempuh pendidikan di bangku kuliah.

Namun, sepanjang hidupnya pastilah dia belajar, melihat peluang ini-itu, memprediksi berbagai probabilitas, mengaplikasikan teori-teori yang baru diketahuinya untuk memperkuat bisnisnya.

Dan lain sebagainya, sampai bisnis sukses

Hal 47

2. Salah jurusan : Haruskan aku pindah?

Dan, seperti apa pun yang ada di dunia ini, tak pernah ada yang sempurna, termasuk jurusan ini.

Hal. 84

Saya teringat di tahun 2020 ketika memutuskan mantap untuk pindah jurusan, sebelum jadi jurusan manajemen saya pernah jadi mahasiswa jurusan sastra jepang. Awalnya sih berpikir kayaknya jurusan sastra jepang tuh keren apalagi kalau udah ngerti bahasanya kalau lagi nonton anime, di semester awal pun nggak terlalu susah sih tapi makin lama makin naik semester mata kuliahnya semakin sulit hingga berhenti di tengah jalan. Ternyata kuliah sastra Jepang itu nggak hanya sekadar belajar grammar atau percakapan saja, di sastra ini kita bakal belajar tentang kebudayaan, penerjemah sampai menulis kanji yang bikin kepala saya mumet dan semakin sulit seiring berjalannya ke pertengahan semester.

Di bab ini Alvi menulis pengalamannya ketika dirinya merasa salah jursan, namun ia berusaha memepelajari materi-materinya meskipun beberapa ada yang nggak suka. Sama kayak saya ada beberapa materi mengandung hitung-hitungan yang pingin saya hindari, tapi suka nggak suka tetap harus di pelajari dan paksa sebisa mungkin. Kalau bisa belajar beberepa materi manajemen yang saya suka dan saya belum menentukan pelajaran manajemen apa yang saya suka, paling yang mudah itu tentang manajemen pemasaran sama manajemen SDM.

3. Nasib Mahasiswa Kupu-Kupu

Dan, mahasiswa kupu-kupu yang kau temui di kampusmu..

Mungkin, dia sedang mengejar mimpi. Mungkin, dia harus bekerja untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Mungkin, oh bukan mungkin.

Tapi pasti… kita tak tahu apa-apa.

Alvi Syahrin

Mahasiswa kupu-kupu adalah tipe mahasiswa yang memilih langsung pulang daripada nongkrong bareng teman-teman atau ikut kegiatan lain usai kuliah. Tipe ini kerap dipandang sebelah mata karena menganggap dicap kuper dan lebih mementingkan diri sendiri, saya dulu emang termasuk ciri-ciri mahasiswa kupu-kupu jarang nongkrong bareng teman sekelas karena saya nggak terlalu dekat sama mereka. Kalau nongkrong sih paling cuman beberapa teman dekat dari beda kelas dan sebatas hangout nonton bioskop doank.

Di bab ini Alvi bercerita bahwa ia juga termasuk mahasiswa kupu-kupu dan nggak pernah ikut organisasi satupun meskipun kakak senior memperingatinya untuk jangan menjadi mahasiswa kupu-kupu dan gabung ke organisasi di kampus. Tapi tetap saja Alvi nggak nurut perkataan dari kakak senior, ia becerita bahwa dirinya lebih memilih ikut kelas menulis dan sering belajar sendiri selepas pulang dari kuliah, selain itu alasan menjadi mahasiswa kupu-kupu juga karena sulit beradaptasi di lingkungan baru.

Meskipun saya introvert berat tapi saya juga pernah ikut gabung UKM kendo dan bertahan sampai tahun 2019 sebelum memutuskan jadi full mahasiswa kupu-kupu. Sekarang saya udah kembali ikut UKM jurnalistik dan ikut kelas menulis serta bahasa asing online, semester tengah ini saya udah mulai cari pengalaman-pengalaman baru yang sesuai dengan minat dan udah rajin belajar sendiri supaya berusaha aktif dan terus berkarya di masa pandemi.

4. Mimpi yang tercapai

Sampai sekarang sebagian mimpi saya masih belum terwujud dan berusaha mungkin untuk terus belajar demi menggapai cita-cita dan impian saya nanti di masa depan. Butuh perjuangan keras untuk melawan badmood yang kerap menyerang diri saya, di sisi lain saya tetap bersyukur dengan target-target kecil yang bisa terwujud.

Mari kita syukuri mimpi-mimpi yang tak tercapai sebab mimpi-mimpi yang tak tercapai itu adalah bagian dari doa-doa yang belum dikabulkan.

Hal. 154

5. Ingin keluar dari zona nyaman

Aku pingin keluar dari zona nyaman

Begitulah kata-kata sepintas di pikiran kita ketika ingin berusaha keluar dari zona nyaman senyaman-nyamannya. Bagi kalian yang masih suka rebahan sambil main sosmed dan bingung mau ngapain ini saatnya kalian harus segera keluar dari zona nyaman untuk mencari skill-skill yang bakal penting berguna untuk masa depan.


Sebenarnya masih banyak sih isi-isi bab yang seru banget kalau untuk diulas seperti tentang Terlambat lulus, Bagaimana milih jurusan dengan tepat, dan masih banyak lagi pertanyaan-pertanyaan tentang seputar kuliah dan mahasiswa.

Ada yang sudah baca buku Jika Kita Tak Pernah Jadi Apa-apa?

Share this post

Seorang mahasiswa yang menyukai dunia kepenulisan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Social media & sharing icons powered by UltimatelySocial